Wanita Dibalik Islamnya Sang ‘ Singa Padang Pasir’ !!

Akunews.com |
Mungkin sering kita mendengar atau membaca kisahnya. Sosok perempuan di balik keislaman Al-Faruq Umar bin Khattab.



Dialah saudara perempuan kesayangannya yang berjulukan Fatimah binti Khattab bin Naufal Al-Quraisyi. Ia termasuk wanita angkatan pertama yang berbai’at kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Ia telah lebih dulu memeluk Agama Islam sebelum saudara lelakinya. Tetapi ia selalu menyembunyikan keislamannya dari Umar yang kala itu terkenal bengis.
Ia hidup berkhidmat kepada dakwah Islam , dan dalam berkhidmat ini dia mengalami banyak peristiwa. Khabab bin Al-Arat ialah sosok yang berulangkali mengajari Fatimah dan Sa’ad bin Zaid (Suaminya) membaca Al-Qur’an. Dengan tekun Khabab menunjukkan hafalan ayat-ayat Tuhan ta’ala. Ia bacakan , lalu dia menirukan , hingga kemudian hafal.

Adapun sejarah yang mahsyur menceritakan perihal masuk Islamnya Umar bin Khattab ialah sebagai berikut :

Pada suatu hari Umar bin Khattab pergi menghunus pedang , untuk membunuh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Di tengah jalan , ia bertemu dengan seorang lelaki dari golongan bani Zahrah , kemudian ia menanyakan hendak kemana tujuan Umar bin Khattab pergi. Lalu Umar mengatakan , bahwa ia bermaksud hendak membunuh Muhammad bin Abdillah. Mendengar jawaban Umar , lelaki tersebut memperingatkan Umar , bahwa bani Hasyim dan bani Zahrah akan menunjukkan pembalasan yang lebih kejam bila ia hingga membunuh Muhammad. Lalu lelaki itu mengalihkan pembicaraan , kepada duduk perkara yang sangat luar biasa menakjubkan yang perlu dipikirkan oleh Umar.

Lalu Umar menjadi penasaran perihal duduk perkara luar biasa menakjubkan yang membuat dia mendesak lelaki dari bani Zahrah yang ditemuinya itu untuk bercerita. Lantas lelaki bani Zahrah tersebut menjawab , “Wahai Umar! Sebaiknya anda pergi saja menemui saudara perempuanmu dan suaminya. Karena sebetulnya mereka berdua telah meninggalkan Agama nenek moyangnya , dan beriman kepada fatwa yang dibawa Muhammad yaitu orang yang hendak kau temui dan kau bunuh itu…!”

Sungguh! demi mendengar gosip mengejutkan tersebut , Umar Bin Khattab segera mengubah tujuan , pergi ke rumah saudara perempuannya dengan dada yang bergemuruh penuh kemarahan. Dan begitu Umar telah hingga ke rumah Fatimah (saudara perempuan yang sangat disayanginya tersebut) , ternyata disana ia menjumpai Khabab bin Al-Arat yang selama ini mengajarkan Al-Qur’an pada Fatimah dan suaminya.
Mengetahui Umar bin Khattab datang , maka Khabab pribadi bersembunyi. Lalu Umar menanyakan bunyi yang tadi sempat didengarnya dari luar pintu. Melihat kakaknya yang sedang kalap maka Fatimah binti Khattab segera mengambil lembaran yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an , dan segera menyembunyikan ke dalam sakunya. Fatimah dan Sa’ad bin Zaid , suaminya pun bertanya kepada Umar Bin Khattab ,

“Ya Umar , adakah engkau mendengar sesuatu?”

Jawab Umar , “Demi Tuhan gue telah mendengar khabar , bahwa kau berdua telah mengikuti fatwa Agama Muhammad…!!!”

Lantas Umar bin Khattab memukul Sa’ad bin Zaid , adik iparnya. Melihat itu Fatimah segera bangun menghalangi , tetapi ia malah di pukul juga oleh Umar , hingga terluka dan berdarah mukanya. Akhirnya secara spontan Fatimah dan Sa’ad memberikan pernyataan di hadapan Umar , bahwa mereka berdua telah masuk Islam dan beriman kepada Tuhan ta’aladan Rasul-Nya. Dan dengan pasrah mereka mempersilakan Umar bin Khattab untuk berbuat apa saja terhadap diri mereka…Subhanallah…

Fatimah ialah adik kesayangan Umar bin Khattab. Begitu melihat darah mengalir di wajah adik yang sangat dikasihinya tersebut , Umar menjadi sangat menyesal , alasannya dia telah membuat adik perempuan yang sangat dikasihi dan dijaganya selama ini justru terluka di tangannya sendiri , lalu Umar bin Khattab berkata kepada mereka ,

“Berikan kepadaku lembaran yang kalian baca tadi…! semoga gue dapat melihat apa yang dibawa Muhammad hingga adikku ini mengikutinya…”

Jawab Fatimah binti Khattab , “Kami takut engkau akan bersikap garang terhadapnya (Muhammad shalallahu alaihi wasallam)…” Lalu Umar bin Khattab berkata , “Sungguh!… Janganlah kau takut dan khawatir adikku…aku tidak akan berbuat sesuatu terhadapnya …” Dan Umar pun kemudian bersumpah dengan menyebut nama-nama berhalanya , bahwa ia juga akan mengembalikan goresan pena tersebut setelah dibaca.

Setelah Umar bin Khattab mengucapkan sumpah atas nama berhala , timbullah harapan dalam hati Fatimah bin Khattab , semoga kakaknya masuk Islam. Lalu ia berkata ,

“Wahai saudaraku…sesungguhnya engkau najis alasannya kesyirikanmu , sedang lembaran ini tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci. Karena itu , mandilah terlebih dahulu sebelum engkau menyentuh lembaran ini…!”

Kemudian Umar bin Khattab memenuhi apa yang menjadi perintah adiknya. Ia pribadi mandi. Dan setelah ia selesai mandi , Fatimah menunjukkan “Shahifah” (lembaran) itu kepada Umar bin Khattab. Dan ternyata dalam lembaran itu terdapat goresan pena Al-Qur’an :

“Thaha…Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu semoga kau menjadi susah , tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Tuhan , Yakni diturunkan dari Tuhan yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. Yakni Tuhan Yang Maha Pemurah , Yang bersemayam di atas Arsy. Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit , semua yang ada di bumi , semua yang ada di antara keduanya , dan semua yang ada di bawah tanah. Dan jikalau kau mengeraskan ucapanmu , maka sebetulnya Dia mengetahui belakang layar dan yang lebih tersembunyi. Dia-lah Tuhan , tidak ada Tuhan melainkan Dia. Dia mempunyai Asma’ul Husna (nama-nama yang baik).” (QS. Thaha : 1-8).

Dan setelah selesai membaca teks ayat-ayat Al-Qur’an yang berada dalam lembaran yang diberikan Fatimah , lalu Umar bin Khattab berkata ,

“Alangkah mengagumkan dan mulianya Kalam ini…!”

Mendengar pernyataan Umar bin Khattab bahwa lembaran yang dibaca berisikan sesuatu yang mengagumkan lagi mulia , maka Khabab bin Al-Arat yang sedang bersembunyi tadi segera keluar dari persembunyiannya. Ia tadi bersembunyi alasannya takut dihajar oleh Umar bin Khattab yang terkenal kebengisannya itu. Lalu Khabab berkata ,

“Ya Umar…! Demi Tuhan , sungguh…! Aku sangat mengharapkan engkau menjadi orang yang diistimewakan Tuhan ta’alalantaran do’a Rasulullah shalallahu alaihi wasallam…Sebab kemarin gue telah mendengar dia berdo’a :

“Allahumma ayyidil islama bi-abil hakam ibni Hisyam au bi’Umar ibnil Khattab = Ya Tuhan , perkuatlah Islam dengan Abil Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) , atau dengan Umar bin Khattab.”

Karena itu…bertaqwalah kau kepada Tuhan , wahai Umar…!”

Setelah mendengar penuturan Khabab , lalu Umar berkata , “Wahai Khabab…! tunjukkanlah kepadaku dimana Muhammad berada. Aku akan masuk Islam.”

Jawab Khabab , “Beliau sedang berada di sebuah rumah di erat Shafa’ bersama beberapa orang sahabat.”

Umar lalu menyarungkan pedangnya , pergi menemui Rasulullah. Setelah hingga ke daerah yang dituju , Umar bin Khattab segera mengetuk pintu , berdirilah seorang teman , mengintip dari celah-celah pintu. Ternyata yang bangun di luar ialah Umar bin Khattab yang menyandang pedang. Melihat hal ini teman pribadi kembali menghadap Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dengan perasaan takut , seraya berkata ,

“Ya Rasulullah…yang ada di luar ialah Umar bin Khattab. Ia menyandang pedang…”

Mendengar hal itu , maka Hamzah bin Abdul Muthalib berkata ,

“Persilahkan ia masuk…! Bila ia bermaksud baik , maka kita sambut dia dengan baik. Dan bila ia bermaksud jahat , maka kita bunuh ia dengan pedangnya sendiri.”

Lantas Rasulullah SAW bersabda , “Izinkan Umar masuk…!”

Setelah Rasulullah SAW menunjukkan izin , Umar bin Khattab segera dipersilakan masuk , dan dia menemui Umar di beranda. Lalu Rasul memegang tali celana atau selendang , kemudian mengikat erat-erat , seraya bersabda ,

“Wahai putera Al-Khattab , apakah yang mengantarkan dirimu datang kemari…? Jawab Umar bin Khattab , ” Ya Rasulullah…! Aku datang untuk beriman kepada Tuhan dan rasul-Nya , serta semua fatwa yang datang dari sisi-Nya (Allah ta’ala).”

Dan manakala mendengar jawaban Umar bin Khattab ini , Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pribadi bertakbir , hingga seluruh penghuni rumah itu (para sahabat) mengetahui , bahwa Umar bin Khattab risikonya telah masuk Islam. Kemudian berpencarlah para teman untuk berdakwah secara terang-terangan dan mereka merasa besar hati setelah Hamzah dan Umar masuk Islam.

Meraka tahu , bahwa kedua orang ini akan menjadi pembela serta pelindung Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dari gangguan dan serangan musuh.

Itulah kisah masuk Islamnya sang singa padang pasir “Umar bin Khattab”. Ia tergugah hatinya lantaran membaca Kalam Ilahi , berkat bimbingan dan kecerdasan adik kandungnya Fatimah binti Khattab. Maka kekerasan hati dan ketegaran jiwanya dalam mempertahankan kekufuran , risikonya luluh dan tanpa ragu berlutut di hadapan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dengan menyatakan keislamannya.

Jika dulu pedangnya selalu terhunus untuk menghampiri leher pendukung-pendukung Muhammad bin Abdillah , maka kini pedang itu terhunus untuk memenggal kepala setiap orang yang berani menghalangi dakwah Islam. Dan oleh alasannya itu Umar bin Khattab mendapat gelar “Al-Faruq”. Pemisah yang haq dan yang bathil.

Adapun Fatimah binti Khattab adik perempuan kesayangan Umar bin Khattab , termasuk wanita yang di karuniai usia panjang. Ia masih berkesempatan menyaksikan kakak kandungnya menjadi khalifah , menggantikan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dan menurut Ibnul Jauzi , Fatimah binti Khattab ini termasuk wanita yang mulia , yang ambil adegan dalam meriwayatkan hadits Nabi shalallahu alaihi wasallam.

Demikianlah sekilas kisah usaha Fatimah binti Khattab dalam ikut serta menyebarkan dakwah Islam. Ia telah berhasil meluluhkan hati sang singa padang pasir yang keras bagai kerikil karang , yang atas bimbingannya kemudian menyatakan masuk Islam. Fatimah sebagai “Wanita Mulia” , pernah berkata ,

“Sungguh dibalik setiap yang mulia , ada wanita mulia.” (demikian keterangan dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam , Al-Mujtana karya Ibnul Jauzi , Thabaqat Ibnu Sa’ad , As-Shawaiqul Muharriqah karya Ibnu Hajar , Al-Ishabah karya Ibnul Hajar , Al-Isti’ab karya Ibnu Abdil-Bar , dan Al-Mustadrak karya Al-Hakim).

Wallahu’alam.

Artikel terkait: