Jilbab Wanita Muslimah Bukan Untuk Berhias Selengkapnya

Akunews.com |
Banyak sekali yang beranggapan bahwa jilbab yaitu salah satu embel-embel yang bertujuan untuk mempercantik dan memperindah diri.



Tak jarang yang berniat berjilbab itu bukan alasannya yaitu perintah Tuhan , namun alasannya yaitu ingin terlihat anggun didepan semua orang.
Maksud perintah mengenakan jilbab yaitu perintah untuk menutup embel-embel wanita. Dengan demikian , tidaklah masuk logika bila jilbab yang berfungsi untuk menutup embel-embel wanita itu malah menjadi pakaian untuk berhias , sebagaimana sering kita temukan

Jilbab disyaratkan tidak untuk berhias , berdasarkan firman Tuhan ta’ala yang tersebut di dalam surat An-Nur ayat 31:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ

“Janganlah mereka menampakan embel-embel mereka.”

Secara umum ayat ini mengandung larangan menghiasi pakaian yang dipakainya sehingga menarik perhatian laki-laki. Ayat ini juga dikuatkan oleh firman Tuhan yang tersebut di dalam surat Al-Ahzab ayat 33:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah! Juga , janganlah kau berhias dan bertingkah laku ibarat orang-orang jahiliyah dulu!”

Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ثلاثة لا تسأل عنهم : رجل فارق الجماعة وعصى إمامه ومات عاصيا وأمة أو عبد أبق فمات وامرأة غاب عنها زوجها قد كفاها مؤنة الدنيا فتبرجت بعده فلا تسأل عنهم

“Ada tiga golongan insan yang tidak ditanya , (karena mereka sudah pasti termasuk orang-orang yang celaka): pertama , seorang laki-laki yang meninggalkan jama’ah dan mendurhakai imamnya serta meninggal dalam kedurhakaan itu; kedua , seorang budak wanita atau laki-laki yang melarikan diri meninggalkan pemiliknya , lalu dia mati; ketiga , wanita yang ditinggal pergi oleh suaminya , dimana suaminya itu telah mencukupi kebutuhan duniawinya , namun (ketika suaminya tidak ada itu) dia bertabarruj. Ketiga orang itu tidak akan ditanya.”

Tabarruj yaitu perbuatan wanita menampakkan embel-embel dan kecantikannya , serta segala sesuatu yang seharusnya ditutup dan disembunyikan alasannya yaitu mampu membangkitkan syahwat laki-laki.

Kaprikornus , maksud perintah mengenakan jilbab yaitu perintah untuk menutup embel-embel wanita. Dengan demikian , tidaklah masuk logika bila jilbab yang berfungsi untuk menutup embel-embel wanita itu malah menjadi pakaian untuk berhias , sebagaimana sering kita temukan.

Berkaitan dengan hal ini , Imam Adz-Dzahabi di dalam kitab Al-Kabair hlm. 131 berkata: “Di antara perbuatan yang mengakibatkan wanita akan menerima laknat adalah: menampakkan embel-embel emas dan mutiara yang berada dibalik niqab (tutup kepalanya)nya , memakai aneka macam wangi-wangian , ibarat misik , anbar dan thib saat keluar rumah , memakai aneka macam kain yang dicelup , memakai pakaian sutera , memanjangkan baju dan melebarkan serta memanjangkan lengannya. Semua itu termasuk bentuk tabarruj yang dibenci Tuhan , yang pelakunya akan menerima murka Tuhan di dunia dan di akhirat. Karena perbuatan-perbuatan tersebut banyak dilakukan oleh kaum wanita , maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda wacana mereka:

اطَّلَعْتُ فِى الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِى النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاء

“Saya pernah menengok ke neraka , dan ternyata kebanyakan penghuninya yaitu kaum wanita.”
Hadits ini yaitu hadits shahih , yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari , Muslim dan lainnya dari Imran bin Hushain dan lainnya.

Ahmad dan lainnya dari Ibnu Amru secara marfu’ menambahkan:”…. Dan orang-orang kaya.” Namun tambahan di atas munkar (tertolak) , sebagaimana telah saya tahqiq di dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah (hadits no.2800) jilid VI.

Saya katakan: Begitu kerasnya Islam melarang perbuatan tabarruj sehingga disetarakan dengan perbuatan syirik , zina , mencuri dan perbuatan-perbuatan haram lainnya. Hal itu alasannya yaitu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membai’at para wanita dia menegaskan biar mereka tidak melaksanakan perbuatan-perbuatan tersebut.

Abdullah bin Amru pernah mengisahkan: “Umaimah bintu Ruqaiqah pernah datang berbai’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata , “Saya membai’at kau untuk tidak menyekutukan Tuhan dengan sesuatu apapun , tidak mencuri , tidak berzina , tidak membunuh anakmu , tidak membuat-buat kedustaan yang dibuat dengan kedua tangan dan kedua kakimu , tidak meratap , dan tidak ber-tabarruj ibarat dilakukan wanita-wanita jahiliyah dulu.”

Namun perlu diketahui , bahwa sama sekali bukanlah termasuk kategori embel-embel kalau pakaian yang dipakai oleh seorang wanita itu tidak berwarna putih dan hitam. Ini perlu saya tegaskan , alasannya yaitu hal ini terkadang disalahpahami oleh sebagian kaum wanita yang ingin berkomitmen (dengan agamanya). Alasannya adalah:
Pertama , adanya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

طِيبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِيَ رِيحُهُ

“Parfum wanita yaitu yang tampak warnanya namun tersembunyi baunya ,” (Hadits ini tersebut di dalam kitab Mukhtashar Asy-Syamail , hadits no. 188).

Kedua , adanya praktek para wanita teman yang memakai pakaian yang berwarna selain hitam dan putih. Berikut ini saya kemukakan beberapa riwayat yang menyampaikan hal itu yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab Al-Mushannaf (VIII: 371-372):

• Dari Ibrahim , yaitu Ibrahim An-Nakha’i , bahwa pernah dia bersama Al-Qamah dan Al-Aswad mengunjungi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia melihat mereka mengenakan pakaian-pakaian panjang berwarna merah.

• Dari Ibnu Abi Mulaikah , dia berkata , “Saya pernah melihat Ummu Salamah mengenakan baju dan pakaian panjang berwarna kuning.”

• Dari Al-Qasim , yaitu Ibnu Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq , bahwa Aisyah pernah mengenakan pakaian yang berwarna kuning , padahal dia sedang melaksanakan ihram.

• Dari Hisyam , dari Fathimah bintu Al-Mundzir , bahwa Asma’ pernah memakai pakaian yang berwarna kuning padahal dia sedang ihram.

• Dari Sa’id bin Jubair bahwa dia pernah melihat sebagian dari istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam thawaf mengelilingi ka’bah dengan mengenakan pakaian berwarna kuning.

Artikel terkait: