Ancaman Yang Mahakuasa Kepada Orang Sengaja Tidak Mahu Membayar Hutang

Akunews.com |
Ketika dalam keadaan terdesak , perlindungan orang lain biasanya sangat kita harapkan.



Namun ramai orang yang ambil mudah dalam info membayar hutang ,serta menunda-nunda pembayarannya hingga lewat dalam tempoh yang ditetapkan , padahal mereka bisa untuk membayarnya.
Kadang kala orang yang meminjamkannya yang harus berusaha keras menagih hak mereka. Ini merupakan sebuah bentuk tindakan kezaliman dan merugikan orang lain. Ancamannya pun tidak main-main dan membuat anda berfikir berulang kali untuk menunda bayar hutang. Apakah ancamannya? Berikut ulasannya.

Untuk dapat diketahui bersama bahawa hutang akan terus dipertanggungjawabkan kepada si peminjam walaupun ia sudah meninggal dunia.

Inilah bantu-membantu paling berbahaya , ketika seseorang menunda-nunda pembayaran hutangnya , mereka juga harus mengingat bahwa maut bisa datang bila-bila saja. Jika nyawa keluar dari jasad sementara diri masih berhutang maka akan sangat susah untuk membayarnya.

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham , maka hutang tersebut akan dilangsaikan dengan kebaikannya (di hari selesai zaman nanti) kerana di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Hadis di atas ditujukan ketika hari selesai zaman nanti , sementara ketika masih di alam Barzah menunggu hari selesai zaman akan lain lagi ceritanya. Dalam sebuah hadis dijelaskan bahawa orang yang masih berhutang dalam keadaan sudah meninggal , maka rohnya akan tergantung hingga ada keluarga yang membayarkan untuknya.

“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga ia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078 dan Ibnu Majah no. 2413. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih).

Bergantung dalam hadis di atas menurut Al ‘Iroqiy yaitu tidak boleh dikatakan selamat atau sengsara hingga dilihat hutangnya tersebut lunas atau kah tidak. Hal ini menjadi tangungjawab bagi waris untuk segera melunaskannya.
Ancaman ini yaitu bagi orang yang memiliki harta namun tidak mahu membayar hutang , akan tetapi bagi mereka yang tidak memiliki harta , namun bertekad melunasi , maka Yang Mahakuasa SWT akan menunjukkan perlindungan untuk melangsaikan hutangnya tadi. Hal ini dijelaskan dalam beberapa hadis.

“Allah akan bersama (memberi perlindungan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) hingga ia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahawa hadis ini shahih).

Dalam riwayat lain juga dijelaskan bahwa orang-orang yang berhutang namun berniat tidak mahu membayar akan digolongkan dalam kategori golongan pencuri di alam abadi kelak. Mereka akan menerima hukuman layaknya hukuman yang akan didapatkan para pencuri.

“Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya , maka ia akan bertemu Yang Mahakuasa (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Al-Munawi mengatakan , “Orang ibarat ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri dan akan diberi jawaban sebagaimana mereka.” (Faidul Qodir , 3/181)

Semoga kita senantiasa menjadi Hamba yang takut untuk menunda-nunda membayar hutang dan menjadi orang yang selalu berniat untuk segera melunasi hutang-hutang yang pernah dipinjam. Dari Abu Hurairah , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ,

“Sesungguhnya yang paling di antara kalian yaitu yang paling baik dalam membayar hutang.” (HR. Bukhari no. 2393)

Roh Orang Meninggal Tergantung Selagi Hutang Tidak Dibayar
Dalam Islam persoalan hutang yaitu sesuatu yang berat dan akan dipertanggungjawabkan di alam abadi kelak. Orang yang berhutang wajib berusaha untuk membayar dan melunasi hutangnya.

Jika seseorang meninggal dunia dan masih tidak membayar hutang ,dikhuatiri keadaannya akan ibarat yang disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW:

“Nyawa (ruh) mukmin bergantung akhir hutangnya sebelum dilunasi.” (HR Ahmad dan ash-habus sunan).

Bahkan Rasul saw bersabda , “Semua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutang.” (HR Muslim).

Hadist-hadist di atas menurut para ulama berlaku bagi orang yang bantu-membantu bisa dan punya harta tetapi tidak ada niat melunasi.

Sementara bagi yang memang tidak punya harta dan tidak punya kemampuan untuk melunasi , padahal ia ingin melunasi , maka Yang Mahakuasa yang akan melunaskan baginya ibarat disebutkan dalam Shahih Bukhari.

Jika kembali kepada hadits pertama bahawa roh mukmin bergantung dengan hutangnya sebelum dilunasi bererti ia gres bebas dari keadaan yang tidak terang itu bila hutangnya dilunasi.

Kerana itu yang seharusnya dilakukan setelah mayit yang punya hutang itu meninggal ,waris perlu memaikan peranan untuk membayar semua hutangnya menerusi harta yang ditinggalkan sebelum dibahagikan kepada hebat waris.

Dalam keadaan keluarga atau sahabatnya tidak ada yang bisa membayarkan hutang mayit , hendaknya mereka meminta kerelaan pihak pemberi hutang untuk menghalalkan si mayit dengan hutang tersebut.

Dan bila pihak pemberi hutang , baik diminta maupun tidak diminta , telah membebaskannya dari jerat hutang tadi atau mengikhlaskannya , maka hal itu akan menjadi amal kebaikan yang sangat besar bagi pemberi hutang dan boleh membuat roh mayit tidak lagi bergantung.

Wallahu a’lam

Artikel terkait: