Perang Israel vs Palestina bukan Soal Agama, Ini Penjelasannya

Akunews.com | Sudah tak terhitung berapa kali saya menjelaskan dan mengingatkan bahwa konflik dan kekerasan antara Israel dan Palestina itu bukan soal agama: Yahudi memusuhi Muslim atau Muslim melawan Yahudi misalnya. Sama sekali bukan.


Masyarakat Indonesia jangan mau dikibuli, diprovokasi, digiring opininya, apalagi dimintai sumbangan oleh kelompok-kelompok politik-agama unyu-unyu yang tidak bertanggung jawab.

Menganggap konflik Israel-Palestina sebagai perang antara Yahudi melawan Muslim saja sudah keliru apalagi menganggap sebagai perang antara Yahudi-Kristen melawan Muslim. Lebih keliru, ngawur, dan ngacau lagi. Menganggap konflik Israel-Palestina sebagai "perang agama" telah mereduksi kompleksitas masalah yang terjadi baik di Israel maupun Palestina. 

Saya perhatikan bukan hanya umat Islam saja yang salah paham dan gagal paham tentang konflik Israel-Palestina ini. Umat Kristen juga banyak yang salah paham dan gagal paham. Kedua kubu banyak yang menganggapnya sebagai "konflik agama".


Perlu diketahui, dalam banyak hal, umat Kristen di Palestina justru berkoalisi dengan kaum Muslim guna melawan agresi faksi radikal Israel. Mereka melakukan itu karena sama-sama menjadi korban perang dan kekerasan.

Ingat, di Palestina, umat Kristen justru bergabung dengan kaum Muslim guna membangun perdamaian di kawasan ini. Ingat pula, di wilayah ini, ada beberapa kepala daerahnya yang menganut Kristen yang memobilisasi massa Muslim untuk menciptakan perdamaian. Foto-foto di bawah ini mencerminkan kesatuan Kristen-Muslim di Palestina.

Ingat juga di Israel ada lebih dari 20% penduduknya yang beretnik Arab dan beragama Islam. Jumlah kaum Muslim di Israel jauh lebih banyak daripada jumlah umat Kristen.

Ingat juga orang Yahudi itu, sebagai sebuah kelompok etnik, bermacam-macam: ada Yahudi Muslim, Yahudi Kristen, Yahudi ateis, dlsb, tidak melulu Yahudi Yahudi. Dan juga, tidak semua Yahudi itu adalah pendukung Zionisme dan kekerasan atas Palestina. Banyak sekali yang menentangnya.
Kasus Israel-Palestina itu menjadi berlarut-larut karena ulah sejumlah politisi keras kepala dan kaum radikal-ektrimis di kedua belah pihak yang sama-sama tidak mau mengalah dan memberi solusi terbaik, baik untuk warga Palestina maupun warga Israel. Itu aja.

Selanjutnya dan selengkapnya, tunggu tulisanku di Liputan6 tapi belum dimuat sekarang.

Ditulis oleh Sumanto Al Qurtuby 
Cultural Anthropologist di King Fahd University of Petroleum & Minerals

Artikel terkait: