KASIHAN! Wanita ini Diceraikan Suami Hanya Karena Pantatnya Hitam, Padahal Sudah Menikah Setahun


Jika suami benar-benar cinta pada istrinya, maka kondisi istri seperti apapun pasti diterima. Tidak demikian dengan Suwardjo (31). Setelah mengetahui istrinya Rini (21) berpantat hitam, pria ini hanya menyentuhnya pada saat malam pertama saja. Sejak itu Rini tak pernah lagi dijamah oleh suaminya hingga akhirnya Suwardjo menggugat cerai lewat Pengadilan Agama Surabaya.

“Kelelawar sayapnya hitam, terbang rendah di tengah malam, pagi-pagi mereka pulang…..,” begitu lagu Koes Plus tahun 1970-an. Sampai sekarang, meski hanya urusan kelelawar hitam, banyak yang menggemari. Bahkan banyak juga kelompok yang secara periodik bertemu hanya untuk menikmati lagu-lagu Koes Plus.

Lalu bagaimana jika yang hitam pantat istri? Kecewakah Anda sebagai suaminya? Apakah tega menceraikannya hanya karena urusan pantat itu?

Bagi Suwardjo warga Karah Surabaya, kenapa tidak? Baru-baru ini Suwardjo tega membawa istrinya ke Pengadilan Agama untuk bercerai, hanya karena urusan pantat istri yang hitam. Maunya Suwardjo, pantat istri itu kuning atau cenderung putih seperti bakpao isi kacang ijo.

Setahun lalu Suwardjo yang berprofesi sebagai guru SD itu menikah dengan Rini, pegawai bank BUMN. Mereka berpacaran selama dua tahun, dan rupanya meski pacaran cukup lama Suwardjo belum pernah melakukan “studi kelayakan” atas calon istrinya. Sehingga ketika mereka resmi menikah di depan penghulu, Suwardjo merasa seperti beli kucing dalam karung saja. Belum tahu bagaimana dalamnya, apa lagi mendalami.

Seperti lazimnya pengantin baru, setelah resmi menikah malam harinya Suwardjo – Rini menggelar malam pertama dengan penuh gegap gempita. Kebetulan malam itu ada pertandingan bola luar negeri, sehingga seluruh anggota keluarga pada sibuk nonton bola, tapi Suwardjo tidak, karena sibuk dengan urusan pribadinya. Maka yang terjadi kemudian, bola di TV belum ada juga yang berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan, bola Suwardjo sudah gol duluan.

Sayangnya, hanya sekali itu saja Suwardjo memberikan nafkah batin buat istrinya. Sejak itu, meski tinggal serumah dan seranjang, Rini sama sekali tak pernah lagi disentuh. Mereka tidur sendiri-sendiri. Ketika istri jowal-jawil mengajak, Suwardjo malah berkata ketus, “Memangnya saya kondektur bis, apa?”

Rini heran, kenapa suami tak mau memeberikan nafkah batin lanjutan sebagaimana layaknya suami istri. Tapi Suwardjo tak pernah memberi jawaban yang gamblang. Dia hanya muter-muter cari alasan, persis pengacara sedang membela kliennya. Bohong besar kecil tak masalah, yang penting menang.

Tiba-tiba belum lama ini Suwardjo membawa istrinya ke Pengadilan Agama Surabaya, untuk mendaftarkan gugatan cerai. Ketika sidang, majelis hakim pun terheran-heran karena Suwardjo tak bisa menjelaskan apa alasan bercerainya. Jika alasannya Suwardjo tak memenuhi kewajibannnya sebagai lelaki, mestinya yang melayangkan gugatan pihak istri.

Karena hakim terus mendesak untuk memberi alasan perceraian, lama-lama Suwardjo mau buka kartu. “Maaf yang mulia, saya terpaksa menceraikan istri, karena dia berbokong hitam. Saya tak selera jadinya, sehingga ngedrop melulu kaya HP yang baterainya sudah hamil.”, kata Suwardjo.

Tentu saja majelis hakim bingung, masak alasannya tidak logis sama sekali. Namanya orang berumahtangga, pasti saling mencintai. Sedangkan orang mencintai itu pasti bisa menerima segala kekurangan pasangannya. Akhirnya majelis hakim menguliahi Suwardjo tentang makna cinta bagi suami istri. Tapi Suwardjo tak bergeming.

Kini yang tersinggung justru Rini. Urusan pantat hitam saja kok dibikin ribut. Itu kerata api kepala hitam, dulu juga ditunggu orang. Maka katanya kemudian pada majelis hakim, “Sudahlah Pak Hakim, saya rela diceraikan. Seperti dianya paling ganteng saja. Wong dia sendiri juga berkulit hitam.” Kata Rini.

Hitam kaya tiang telepon ya mbak ya?

Sumber : poskotanews.com

Artikel terkait:

Mereka berpacaran selama dua tahun, dan rupanya meski pacaran cukup lama Suwardjo belum pernah melakukan “studi kelayakan” atas calon istrinya.