Jauhi 4 Perkara Ini Jika Kamu Ingin Merasakan Kebahagiaan

Akunews.com | Dalam hidup akan selalu ada sumber ketidakbahagiaan
Jauhi 4 Perkara Ini , Jika Kamu Ingin Merasakan Kebahagiaan
Meloncat , mampu menjadi sebuah ekspresi bahagia. (google.com)

Bahagia , siapa sih yang setiap harinya nggak ingin mencicipi bahagia? siapa coba? pasti semua manusia menginginkan kebahagiaan. Cara apapun biasanya dilakukan untuk mendapat rasa tersebut. Entah itu dengan berbelanja , main PS , kumpul dengan sahabat , nonton komedi , atau melalui sebuah goresan pena dan masih banyak cara yang berbeda dilakukan oleh orang lain.

Namun , semua cara tersebut hanya untuk satu tujuan , yakni kebahagiaan. Sebelumnya kita mesti tahu makna dari kebahagiaan sendiri itu apa? Kebahagiaan merupakan suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan sampai kesenangan , cinta , kepuasan , kenikmatan , atau kegembiraan yang intens. Dalam Islam , kebahagiaan tercurahkan bersama dengan rasa syukur pada Allah.



Beberapa dari kita sering kali merasa bahwa untuk menerima rasa bahagia , rasa yang bener-bener bahagia. Karena terkadang rasa bahagia hanya sebauh kamuflase dihadapan orang , atau hanya sekedar pemaksaan diri untuk bahagia.

Sebenarnya , perasaan sulitnya mendatangkan rasa bahagia kedalam relung hati ialah jawaban dari perilaku dan sikap diri kita sendiri. Masih juga belum percaya? kenapa jawaban dari perilaku kita sendiri? okelah , mari kita bahas 4 perkara Apa yang menjadi sumber ketidakbahagiaan? dan kemudian jauhi 4 perkara ini jikalau kau ingin mencicipi kebahagiaan.

1. Merasa kita ini penting sekali.
Pernah mencicipi diri kita ini penting? kemungkinan setiap manusia pernah mencicipi hal tersebut. Dimana memposisikan diri lebih penting dari orang lain. Dan menyepelekan orang lain , menyepelekan permintaan orang lain. 

Kadang dalam hati bicara , "siapa elu ngajak-ngajak gua". Ini yang menimbulkan rasa selalu diatas , ingin selalu diatas dan lebih penting dari teman-temannya.

2. Merasa kita ini lebih baik dari orang lain.
Takabur , Ujub , Sombong. Ketiganya hampir mirip. Sama-sama menganggap diri lebih atau paling baik. Padahal sifat ini sangat dibenci oleh Tuhan , namun tanpa sada sering kita mendapati sikap tersebut. Selalu merasa lebih baik , juga akan menekan hati , alasannya ialah nafsu telah menyelimuti hatinya untuk jadi lebih baik dan meremehkan orang lain.

Jauhilah , alasannya ialah sikap ini , akan membuat kita jauh dari yang namanya kebahagiaan. Bahkan akan membuat kita semakin nggak bahagia. Perasaan was-was akan tersaingi akan membutakan diri. Setiap hari akan berjibaku dengan rasa nggak tenang.

3. Terbiasa menghakimi dan menuduh orang lain.
Sekarang ini sedang bahayanya , dari medsos. Coba sekarang perhatikan setiap untaian kata yang hadir dalam timeline facebook , twitter , maupun instagram. Semua saling berlomba-lomba untuk menuduh dan menghakimi suatu kalangan. Seharusnya , mesti mencari dulu kebenarannya , gres men-Share , atau gres mengomentari. Kadang hanya dari membaca judulnya saja , sudah terhasut untuk menuduh serta menghakimi.

Menuduh yang bukan faktanya pada suatu kalangan , mampu dalam kategori fitnah. Dan kita semua tahu bahwa betapa kejinya memfitnah , bahkan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.

Semakin sering menghakimi dan menuduh orang lain , akan semakin membuat hati nggak tenang.  

4. Mengomentari semua hal , padahal tidak ada urusannya dengan kita.
 Nah , ini juga sering tampil distatus-status sosial media , kita yang sama sekali nggak menguasai ilmunya akan ikut berkomentar atau ikut membahas , berdebat. Ya terang , balasannya kita yang nggak menguasainya ilmunya hanya akan merasa marah dan sebel. Apa dengan kondisi tersebut kita akan tenang? sama sekai Nggak!

Termasuk juga dalam kategori Ghibah , tau kan bagaimana ngerinya ghibah? ber-Ghibah itu seakan kita memakan daging saudara sendiri. Ikh , ngeriiii yaa.... menyerupai kanibal gitu!


Bahaya laten ghibah sudah menyebar kemana-kemana , yang dulunya identik dengan ibu-ibu. Kita sudah dilakukan laki-laki juga. Mengomentari urusan orang lain , yang bukan menjadi urusan kita. Apalagi disebarluaskan. Sampai melaksanakan ghibah berjamaah , haduh , Ini juga akan membuat kita nggak tenang. 

Itulah kenapa , orang bau tanah dulu selalu menasihati , selalulah bercermin , selalulah akil menilai diri , dalam bahasa Sunda , 'kita teh saha?' , kalau dalam bahasa ngapak , 'Nyong sih sapa ya' maksudnya Kita itu siapa sih , kok segitunya banget?

Dengan begitu kita akan lebih mampu membatasi diri , dan tidak lagi berkamuflase dalam kebahagiaan. Namun bener-bener mencicipi kebahagiaan.

Tapi satu hal yang pasti , bersyukurlah setiap ketika niscaya kita akan mencicipi kebahagiaan.

Artikel terkait: