Beras Maknyuss dan Oplosan Simak Penjelasan Detail Para Pakar

Akunews.com |
Maraknya pemberitaan ihwal gudang beras subsidi yang dikemas dengan beras bermerk premium 'Maknyuss' , membuat para pakar agronomi dan hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar diskusi isu soal beras.



Salah satunya yaitu penjelasan komponen perhitungan harga tertentu.
“Statemen yang kami buat dalam rangka menjernihkan , terkait apakah istilah yang benar dalam tata niaga beras ini ,” kata Sudarsono Guru besar Departemen Agronomi IPB , Rabu 26 Juli 2017.

Kepala Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB Sugiyanta mengatakan para pakar tersebut mengklarifikasi atau batasan-batasan banyak sekali nomenklatur ihwal perberasan , khususnya untuk IR64.

“IR64 itu yaitu varietas padi , istilah umumnya beras IR yang didalamnya ada indiga dan cere , mekongga , ciherang dan sebagainya ,” kata dia. Pertemuan tersebut juga menjelaskan mengenai batasan pencampuran atau pengoplosan beras. Istilah pencampuran varietas beras itu memang tidak diatur , yang diatur yaitu kelas mutunya berupa SNI.

Maraknya pemberitaan penggerebekan gudang beras premium , salah satunya merk beras Maknyuss , membuat para pakar IPB berdiskusi.

Menurut Sugi , dalam diskusi tersebut Departemen Agronomi dan Hortikultura akan menawarkan rekomendasi kepada pemerintah. Rekomendasi tersebut antara lain , mengenai Harga Eceran Tertinggi (HET) beras tunggal. Dalam SNI beras terdiri dari beberapa mutu , tetapi harga diatur oleh HET.
Rekomendasi lainnya , HPP sebagai dasar perhitungan HET juga harus dievaluasi biar menguntungkan banyak sekali pihak yang terlibat sebagai pelaku usaha. “Kami akan menawarkan masukan ini kepada pemerintah biar kedepan tidak terjadi kesalahpahaman antara beras medium dan premium ,” kata Sugi.

Pakar padi dari IPB Purwono menjelaskan , istilah bahasa yang digunakan pedagang beras dan bahasa resmi terutama beras IR64 yang merupakan bahasa pasar. Dia mengatakan mencampur beras sudah menjadi kebiasaan pedagang. “Tidak ada duduk perkara , beras dari manapun yang terpenting memenuhi SNI 6218 ,” katanya.

Ia menuturkan bahwa oplosan yang terjadi pada beras tidak sama dengan pengoplosan yang dikenal masyarakat luas , menyerupai mencampur minuman , atau minyak , dan lainnya. Tapi , dalam beras istilah pengoplosan yaitu peracikan. “Dalam Permendag 47 hanya diatur HET pangan tunggal , Tidak ada ihwal beras medium dan premium. Harusnya untuk beras premium harganya harus lebih mahal dari harga medium ,” kata Purnomo.

Para pakar bersepakat untuk memberi anjuran kepada pemerintah mengevaluasi HET pangan tunggal alasannya yaitu tidak relevan lagi dengan perkembangan dikala ini. Terutama faktor yang mensugesti rumusan HET , menyerupai biaya produksi.

Dalam diskusi tersebut juga dijelaskan , beras medium dan premium menyerupai . Istilah premium diberikan kepada beras yang melalui uji SNI , sedangkan beras medium tidak melalui proses SNI yang banyak beredar di masyarakat di kelas menengah ke bawah. Beras premium produktivitasnya hanya 25 persen dari total produksi beras nasional yakni 40 juta ton per hektare.

Artikel terkait: