Suara Keras untuk Bangunkan Sahur, Sebenarnya Boleh atau Tidak ya?

ANTARA FOTO/Feny Selly
Membangunkan orang untuk sahur masih banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Hal ini adalah salah satu keunikan di bulan puasa di mana segerombolan pemuda berkeliling komplek atau kampung membangunkan orang untuk sahur.

Para pemuda ini menggunakan berbagai alat yang bisa menghasilkan suara yang keras. Mulai dari alat kentongan hingga alat musim modern seperti bass drum. Tidak hanya itu, seringkali ada petugas dari masjid yang membangunkan warga sekitarnya untuk sahur dengan menggunakan alat pengeras suara masjid.

Meskipun ada orang yang terbantu karena dibangunkan untuk sahur, tapi tentu saja ada juga yang merasa terganggu dengan adanya suara-suara keras tersebut. Lalu sebenarnya bagaimana perihal membangunkan orang untuk sahur dengan menggunakan suara keras atau bunyi-bunyian tersebut?

Menurut KH Maman Imanul Haq (Ketua Lembaga Dakwah PBNU), seharusnya masyarakat memberikan apresiasi pada para pemuda yang melakukan hal tersebut. Inisiatif membangunkan sahur bisa membantu para ibu untuk mempersiapkan santap sahur.

"Namun kita harus melakukan kritik, banyak sekali dari orang yang ingin melakukan kebaikan tetapi dengan cara yang tidak benar, atau orang yang melakukan kebenaran tapi dengan cara yang tidak baik," kata beliau dalam video seri Tanya Jawab Seputar Islam (TAJIL) di CNNIndonesia.

Lebih lanjut KH Maman mengatakan,  Islam selalu melandaskan ajarannya pada tiga fondasi penting, yakni iman atau kebenaran, Islam atau kebaikan dan ikhsan atau keindahan. Karena itu, sebaiknya kita membangunkan orang sahur berlandaskan pada tiga nilai tersebut.

"Misal jangan sampai jam 11 sudah mulai atau jam 12, jam 1 sudah mulai. Itu tentu mengganggu. Sebaiknya mulai jam 3 atau 3.30 lalu, lalu ada kebaikan, misal musik-musik yang diperdengarkan adalah musik-musik Islami yang menggugah selera, termasuk juga keindahannya," pungkasnya.

KH Maman juga berharap semua masjid memperhatikan dalam hal penggunaan pengeras suara masjid. Menurutnya saat ini masih ada penggunaan pengeras suara masjid yang tidak semestinya dan mengganggu orang lain.

Salah satu penggunaan pengeras suara masjid yang cukup mengganggu adalah tadarus yang dilakukan secara terus menerus memakai pengeras suara. Menurutnya, jika seseorang ingin melanjutkan tadarus akan lebih baik menggunakan pengeras suara internal masjid saja.

"Saya yakin bahwa ajaran Islam yang penuh dengan kebenaran ini akan diterima kalau dilandasi nilai kebaikan termasuk juga nilai keindahan. Kita isi Ramadan dengan berbagi nilai-nilai itu, kebenaran, kebaikan dan keindahan," katanya.

Lihat juga:

Artikel terkait: