Masjid Mirip Kelenteng di Magelang Ini Dibangun oleh Keturunan China

Masjid Al Mahdi, Magelang
Kumandang suara azan terdengar dari sebuah masjid. Sesaat kemudian orang-orang bergegas menuju ke sebuah bangunan masjid dengan warna yang didominasi oleh warna merah bergaya arsitektur khas China di Jalan Delima Raya, Komplek Perumahan Armada Estate, Kelurahan Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Jawa Tengah.

Masjid tersebut adalah masjid Al Mahdi dengan bentuk yang mirip seperti klenteng. Jika dilihat sekilas bangunan tersebut sangat mirip dengan tempat ibadah umat penganut kepercayaan Kong Hu Chu.

Di bagian kiri masjid terdapat sebuah menara dengan tinggi sekitar 5 meter. Menara tersebut terdiri dari empat tingkatan yang masing-masing berbentuk lubang. Dan terdapat alat pengeras suara pada tingkat yang paling atas.

Pada bagian puncak menara terdapat kubah sederhana yang bertuliskan lafal Allah. Di dalam bangunan yang mirip kelenteng tersebut juga terdapat lampion-lampion yang menggantung di bagian langit-langit masjid.

Pada setiap lampion yang berwarna merah tersebut terdapat kaligrafi asmaul husna atau nama-nama baik dari Allah. Ketika masuk ke dalam ruangan masjid seluas 290 meter persegi itu terlihat beberapa ornamen khas China. Seperti lampu, gagang pintu bernuansa emas, dan lainnya.

Walaupun bangunan tersebut mirip sekali dengan kelenteng, tidak menghilangkan nilai islami sebuah masjid. Dinding masjid bertuliskan beberapa kaligrafi, termasuk sebuah mimbar dan karpet hijau membentuk sajadah.

Masjid ini hanya bisa menampung sekitar 120 jamaah saja. Setiap Jumat masjid ini dipenuhi jamaah, bahkan banyak yang tidak kebagian tempat dan harus shalat di halaman masjid dengan menggelar karpet.

Dibangun oleh Mualaf Keturunan China

Masjid Al Mahdi dibangun oleh Kwee Giok Yong (47), seorang mualaf keturunan China. Disebutkan bahwa Kwee Giok Yong memeluk agama Islam sejak ia berusia 11 tahun dan kemudian berganti nama menjadi Mahdi.

Saat ditemui di sela-sela kegiatannya di masjid, Mahdi menceritakan kisah bahwa masjid tersebut dulunya adalah sebuah rumah. Pada Agustus 2016 lalu, ia berinisiatif memperbaiki bangunan rumah teresbut dan mengubahnya menjadi tempat ibadah dengan arsitektur khas China.

"Dulu hanya rumah, lalu kami bangun masjid ini, waktu pengerjaannya kurang lebih selama 8 bulan,” kata Mahdi, saat ia istirahat mengajar Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) di masjid tersebut.

Mahdi menyebutkan, Masjid Al Mahdi sengaja dibuat dengan arsitektur China. Ini untuk memperlihatkan bahwa sebenarnya agama Islam ada di pelosok dunia. Tidak hanya ada di Indonesia dan negara Timur Tengah saja, tetapi juga di China.

”Saya pernah ke China, semua bangunannya seperti ini, tidak hanya kelenteng tapi juga masjid dan rumah-rumah warga. Muslim di sana juga banyak, jadi saya pun ingin menunjukkan kalau Islam itu ada di mana-mana,” kata Mahdi.

Pada April 2017 lalu, Masjid Al Mahdi diresmikan oleh Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito. Masjid Al Mahdi adalah masjid ke 18 di Indonesia yang dibuat dengan arsitektur China dan tidak lama lagi akan menyusul bangunan yang mirip di kota Salatiga.

"Bukan hanya bentuk bangunannya saja yang beda dari masjid lainnya, tapi di sini juga ada kegiatan thalabul 'Ilmi (mencari ilmu). Ada kajian ilmu tentang fiqih, hadist, tafsir dan sebagianya. Termasuk belajar Al Quran untuk anak-anak setiap sore," jelas Mahdi.

Pada bulan Ramadan ini, bangunan tersebut sering digunakan untuk kegiatan pengajian dan kegiatan keagamaan lain. Khusus Minggu malam digelar shalawatan, Senin kajian fikih, Selasa kajian hadist, Kamis membaca Al Kahfi, Jumat tadarus Al Quran, dan Sabtu yasin tahlil.

”Khusus Ramadhan, kami juga bagi-bagi takjil dan buka bersama. Sebelum berbuka kita juga adakan kultum. Usai shalat tarawih juga ada kegiatan tadarus. Alhamdulillah banyak yang ikut, terutama anak-anak dan warga sekitar,” kata Mahdi.

Masjid ini telah menarik minat masyarakat untuk datang walaupun masih tergolong baru. Para pengunjung masjid tersebut sebagian besar berasal dari kawasan sekitar yang tinggal di perumahan elite.

Selain digunakan untuk tempat beribadah, di masjid Al Mahdi kita akan sering menjumpai masyarakat yang sedang berfoto ria. Menurut Mahdi hal ini adalah hal yang baik karena ini menjadi salah satu upaya syiar agama Islam kepada masyarakat luas. Mahdi berharap semakin banyak umat Islam yang mencintai masjid dan semakin takwa kepada Allah.

"Kami sangat bersyukur, Alhamdulillah. Ini bagian syiar kami. Pernah ada orang tiba-tiba ingin shalat, karena melihat masjid ini ketika melintas lewat sini," kenangnya.

Ahmadi (70), warga Boyolali mengatakan bahwa ia sengaja datang ke masjid tersebut karena penasaran dengan masjid bergaya kelenteng tersebut. Dia mengetahuinya dari tayangan televisi beberapa waktu lalu.

"Saya lihat di TV, kok masjid ini unik, lalu saya ajak keluarga untuk kemari. Ternyata memang bagus, saya sempatkan shalat zuhur dan ashar berjemaah di sini," kata Ahmadi.

Artikel terkait:

bangunan masjid dengan warna yang didominasi oleh warna merah bergaya arsitektur khas China di Jalan Delima Raya, Komplek Perumahan Armada Estate, Kelurahan Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Jawa Tengah