Keindahan Tebing Breksi, Karya Seni di Puncak Yogyakarta


Jogja merupakan salah satu kota wisata yang paling banyak diminati wisatawan domestik untuk menghabiskan masa liburan. Bukan hanya pusat perbelanjaan seperti Malioboro, tapi kuliner gudeg, dan wisata sejarah di Candi-Candi juga jadi alasan kuat untuk wisatawan domestik mampir ke Yogyakarta.

Dan sekarang ada yang terbaru, wisatawan bisa datang ke tebing yang sedang jadi berita di Yogyakarta, yakni Tebing Breksi. Tak seperti tebing pada umumnya, Tebing yang berada di daerah Sambirejo, Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta ini, mempunyai tampilan yang berbeda dan cocok sekali untuk tempat berfoto. Meski tebing ini dibentuk oleh tangan manusia, dan bukan terbentuk secara alami tetapi tempat ini tidak pernah sepi pengunjung.


Tebing Breksi merupakan tempat wisata yang unik, hal ini dikarenakan pengelola lebih mengedepankan tebing menjadi objek wisatanya. Tebing Breksi awalnya berasal dari bukit batu biasa yang diubah menjadi suatu karya seni yang indah melalui proses panjang, terkikis ketika aktifitas penambangan material bangunan oleh masyarakat sekitar selama puluhan tahun. Menurut data yang diterima sejak tahun 1980-an, tebing ini menjadi sumber mata pencaharian masyarakat sekitar.



Kemudian muncul sebuah fakta ketika pemerintah melakukan kajian terhadap lokasi ini bahwa tebing ini memiliki kandungan abu vulkanik dari gunung api Purba Nglanggeran di Gunung Kidul. Dan terbitlah larangan untuk menambang batu disini, dan area ini pun dijadikan cagar budaya  dan harus dilestarikan.

Tetapi peraturan tersebut tidak sertamerta memutuskan semangat warga untuk merubah Tebing Breksi menjadi objek wisata yang patut dikunjungi oleh wisatawan local maupun mancanegara. Lalu pada tahun 2015 Tebing Breksi diresmikan oleh Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X,  dan akhirnya dibuka untuk umum.


Tebing yang menjadi geo heritage ini mempunyai luas area sekitar empat hektar dengan medan tidak rata (naik turun), sehingga wisatawan yang akan berkunjung kemari disarankan untuk memakai alas kaki yang nyaman, tidak licin dan juga mengenakan topi bertali karena cuaca yang terik ketika siang hari dan hembusan angin cukup kencang.

Tetapi kalau ingin mengunjunginya di malam hari, kenakanlah pakaian yang tebal untuk menghindari masuk angin. Wisatawan tak perlu khawatir dengan jalur pendakian karena ada deretan anak tangga yang berjajar rapi, yang lengkap dengan ukiran dengan gambar yang menarik di dindingnya yang diukir oleh seniman setempat.

Di puncak Tebing Breksi, wisatawan akan disajikan pemandangan landscape Candi Prambanan, Candi Sojiwan, Candi Barong, Gunung Merapi, dan kota Yogyakarta yang sangat indah.



Pada bagian depan objek wisata ini, ada sebuah area yang dinamakan Tlatar Seneng, dibentuk setengah lingkaran, ditambahkan panggung bulat berdiameter 15 meter dilengkapi kursi-kursi panjang yang mengelilingi dan dibuat serupa dengan Colosseum di Roma, Italia.

Tlatar Seneng sering digunakan saat panggung pertunjukan seni seperti pagelaran wayang kulit atau acara musik. Pertunjukan seni ini biasanya diadakan ketika musim liburan atau pada saat akhir pecan, maka jangan jangan kaget ketika high season Tebing Breksi sangat ramai dikunjungi pengunjung.

Tidak dipungut biaya untuk wisatawan masuk ke Tebing Breksi ini, tetapi tetap ada biaya sebesar Rp 2.000 untuk parkir motor dan Rp 5.000 untuk mobil. Wisatawan bisa datang kapan saja kemari karena tempat ini buka 24 jam, tapi jangan lupa membawa makanan dan minuman sendiri, karena hingga saat ini masih belum ada penjual makanan atau minuman yg berjualan. Selamat Berwisata.

Artikel terkait:

Jogja kota wisata yang paling banyak diminati wisatawan domestik