Bekerja Shift dan Jenis Profesi yang Membuat Pekerjanya Kurang Tidur

Kurang Tidur Mempengaruhi Produktifitas Kerja
Jam tidur cukup dan istirahat yang berkualitas sama pentingnya dengan makanan bernutrisi untuk kesehatan. Sayangnya tidak semua orang bisa menikmati tidur cukup selama tujuh jam dalam satu hari, apalagi bagi mereka yang bekerja dengan profesi tertentu.

Dilansir dari Reader’s Digest, Badan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Amerika Serikat telah meneliti ada banyak karyawan yang sulit mencapai tidur tujuh jam setiap malam. Mereka melakukan survei kepada 179.621 orang pekerja untuk menilai jenis pekerjaan yang mendukung waktu tidur yang ideal dengan yang tidak.

Ditemukan bahwa bekerja sebagai operator peralatan komunikasi menempati urutan teratas untuk hal masalah waktu tidur. 58 persen dari karyawan yang bekerja di bidang ini mengatakan mereka tidak dapat tidur hingga tujuh jam per hari.

Posisi kedua adalah yang bekerja sebagai karyawan transportasi umum (54 persen) dan yang bekerja di perusahaan transportasi khusus kereta api (53 persen). Yang unik adalah karyawan di bidang transportasi udara yang mengaku paling cukup tidur dan memiliki istirahat yang berkualitas. Hanya 21 persen menyatakan tidak mendapatkan waktu tujuh jam tidur dalam satu hari.

Pekerjaan di bidang transportasi udara memiliki waktu tidur lebih banyak jika dibandingkan dengan bidang transportasi lainnya, karena The Federal Aviation and Administration membatasi pilot untuk terbang hanya 8-9 jam setiap kali. Pembatasan itu pastinya memberi kesempatan untuk pilot dapat tidur lebih dari 7 jam dalam satu hari.

Penulis buku The Power of When yang juga seorang dokter spesialis Michael Breus PhD mengatakan, pekerjaan dengan jadwal shifting adalah jenis pekerjaan yang bisa memicu masalah tidur. Jam bekerja yang tak tetap tersebut memicu kerusakan jam biologis tubuh manusia. "Tubuh tidak pernah benar-benar mengerti kapan seharusnya tidur," ucap W. Christopher Winter, MD, pimpinan klinik tidur.

Winter menjelaskan, jika karyawan setelah bekerja shift siang beralih ke shift malam, maka memejamkan mata setelah bekerja merupakan hal yang sangat sulit dicapai dan menyebabkan rasa lelah berlebih dan bisa mempengaruhi produktifitas kerja.

Dia juga mengatakan, kerja shift tak berarti bekerja hingga larut malam. Shift juga bisa diartikan bekerja hingga 11 jam sehari, memiliki jadwal yang tidak tetap, atau berganti jadwal kerja setiap minggu.

Banyak waktu bepergian juga membuat lebih sedikit waktu untuk istirahat. Ditambah bekerja dengan jadwal shifting akan memaksa diri untuk bangun lebih awal saat sedang libur, yang justru memperburuk kondisi ketika kembali bekerja.

Bekerja dengan jadwal tidak konsisten merusak jam biologis tubuh
Mencoba untuk tidur ketika orang lain sudah bangun, sering kali membuat karyawan akan 'mengubah' jam tidurnya pada hari libur, dan ini bisa membuat tidur menjadi sangat berat.
Meskipun seperti itu, apabila perkerjaan Anda memang mewajibkan Anda untuk kerja shift malam, usahakan jadwal di buat secara teratur dan konsisten. Apabila tidak bisa, ajukan kepada atasan untuk membuat jadwal lebih pasti untuk beberapa pekan ke depan.


Jika semuanya tidak berhasil dan tetap membuat tidak bisa tidur cukup dan nyenyak, konsultasi dan minta dokter memberi pengobatan shift work disorder. Obat tersebut dapat mencegah Anda tertidur di tempat kerja sehingga akan lebih mudah tidur ketika sudah di rumah.

"Anda memiliki pergeseran yang lebih baik dan bisa pulang tanpa membahayakan diri sendiri," tambah Winter.

Artikel terkait:

Bekerja Shift dan Jenis Profesi yang Membuat Pekerjanya Kurang Tidur dan merusak jam biologis tubuh