Juni 24, 2017
Dua orang terpidana kasus terorisme, Umar Patek dan Ali Imron, menjadi pembicara pada seminar yang digelar oleh Resimen Mahasiswa Mahasurya, Jawa Timur, di Kota Malang, Senin (25/4/2016).

Narapidana kasus Bom Bali I tersebut bergabung dalam program deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Ali Imron datang ke Malang dari penjara di Jakarta, Minggu malam (24/4).

Kedatangannya berdekatan dengan kedatangan narasumber lainnya yang merupakan mantan terpidana teroris dan mantan Komando Pusat Hujad Maluku, Jumu Tuani. Sedangkan Umar Patek baru tiba pada hari Senin, berangkat dari Lapas Surabaya, di Porong, Sidoarjo.

Mereka menjadi pembicara pada dalam seminar yang bertajuk "Generasi Penerus Bangsa Bersinergi Mendukung Program Pemerintah: Dalam Rangka Kontraradikal dan Deradikalisasi demi Mencegah Instabilitas serta Menjaga Keutuhan NKRI".

Pada seminar tersebut, Imron dan Patek menyampaikan hal yang berkaitan dengan terorisme, salah satunya tentang banyaknya jenis terorisme yang terjadi saat ini.

Imron menjelaskan cara mencegah radikalisme supaya tidak masuk dalam keluarga. Pengikut Jamaah Islamiah itu mengatakan keberadaan Jamaah Islamiah pada saat ini tak ada hubungannya dengan aksi terorisme.

"Mayoritas mereka tidak sepakat dengan pengeboman dan sejenisnya," ucap Ali Imron. Dahulu Imron juga sempat mengimbau kepada pengikut Jamaah Islamiah supaya bisa melakukan kebaikan dan tidak melakukan aksi radikalisme, dan tidak terprovokasi hingga berfikir untuk berangkat ke Irak dan Suriah untuk berjihad.

"Di sana penduduknya cuma 60 juta orang, yang muslim maupun yang nonmuslim, untuk apa kita repot ke sana, di Indonesia 200 juta muslimnya saja, di sini mereka yang berhak kita urusi," kata Ali Imron.

"Jangan termakan slogan dan apapun yang ada di internet," ucap adik dari Amrozi dan Ali Gufron  alias Muklas tersebut. Kedua kakaknya tersebut telah dihukum mati akibat kasus Bom Bali I.

Ali Imron juga mengimbau demikian karena di Suriah dan Irak banyak sumber fitnah, misalnya ketika dua orang Indonesia berangkat ke sana, mereka bisa saja berada di dua kubu yang berbeda, seperti ISIS dan oposisi Suriah.

Ali Imron bertemu keluarga Bom Bali dan meminta maaf keterlibatannya
"Niat awal hanyalah berjuang bersama tapi justru menjadi perang. Inilah fitnah yang harus dihindari. Banyak kebaikan yang bisa dilakukan di Indonesia," ucapnya.

Imron mengimbau masyarakat muslim di Tanah Air agar tak keluar dari naungan Indonesia. Dia juga berharap untuk pejabat agar menunjukkan akhlak yang baik, karena jika pejabat muslim melakukan tindakan korupsi atau kezaliman, hal tersebut dapat menjadi alasan kaum ekstrim untuk melakukan aksinya.

Hisyam bin Ali Zein alias Umar Patek, terpidana bom Bali I, juga menawarkan bantuan kepada pemerintah RI yang ingin membebaskan warga Indonesia yang ditahan kelompok Abu Sayyaf, di Filipina selatan.


Umar mengaku terusik dengan kabar penyanderaan awak KM Brahma 12, dan merasa sanggup memberikan bantuan karena dia kenal dekat dengan Abu Sayyaf. "Aku sangat mengenal Abu Sayyaf dan kelompoknya, sehingga aku rasa sangat mampu membantu," ucapnya.

Umar juga mengatakan bahwa penawaran bantuan tersebut jangan dikaitkan dengan banyak syarat, misalnya pengurangan masa tahanan.

"Ini semua karena rasa kemanusiaan dan tidak ada syarat apapun," kata Umar.

Walaupun dihadiri para terpidana teror bom Bali I yang masih berstatus tahanan, tapi pengamanan di lokasi seminar terlihat biasa saja bahkan tidak ketat.

Juni 24, 2017
Ada dugaan Hambali punya hubungan dengan Al Qaeda
Pengadilan AS mendakwa seorang tahanan di Penjara Guantanamo terkait aksi terror bom pertama yang paling mengerikan di Indonesia,yaitu bom Bali 2002.

Info tersebut diterima dari kantor berita Associated Press, Jumat (23/5/2017), merujuk sebuah dokumen dari pengadilan di negeri “Paman Sam” tersebut.

Tahanan yang dimaksud adalah Hambali. Pria dengan status warga negara Indonesia, kelahiran Cianjur 4 April 1966 ini didakwa karena melakukan serangan bom di hotel JW Marriott, Jakarta pada tahun 2003. Sesuai aturan komisi militer AS, pengadilan militer lah yang memutuskan apakah sebuah pengadilan akan digelar atau tidak.

Serangan bom Bali I, pada tanggal 12 Oktober 2002, yang terjadi di dekat konsulat AS, menewaskan hingga 202 orang, diantaranya 88 orang warga Australia dan 7 orang warga AS.

Seorang “pengantin” (teroris khusus pembom bunuh diri) meledakkan bom yang dibawanya ke dalam sebuah klab malam yang dipenuhi oleh turis asing di dekat bibir pantai di Kuta.

Seorang “pengantin” lainnya juga meledakkan sebuah bom dengan daya ledak tinggi. Bom tersebut dibawa dengan sebuah mobil, dan diparkirkan begitu saja di pinggir jalan di depan klab malam.

Pengeboman kedua yaitu pada tanggal 5 Agustus 2003, target serangan bom kali ini adalah hotel JW Marriott. Serangan bom mobil bunuh diri tersebut dilakukan oleh Asmar Latin Sani dengan menggunakan mobil Toyota Kijang. Korban Jiwa dalam ledakan tersebut setidaknya 12 orang, dan melukai lebih dari 150 orang lainnya.

Asmar Latin Sani yakin bahwa ada banyak warga AS yang tinggal di hotel tersebut dan jaringan mereka meyakini tindakan teror tersebut akan memiliki dampak yang besar. Pada musim gugur tahun lalu, dewan pengamat pemerintah AS menolak pembebasan Encep Nurjaman (nama asli Hambali), dengan alasan dia akan tetap dan terus menjadi ancaman signifikan bagi keamanan AS.

Hambali hadir di hadapan dewan pada Agustus lalu lewat jalur komunikasi jaringan video, untuk meminta pembebasan penahanannya setelah 10 tahun dipenjara.


Pentagon menuliskan profil Hambali yang dirilis menjelang audiensi tersebut dan menjelaskan kalau Hambali merupakan pemimpin kelompok ekstremis yang berbasis di Asia Tenggara, yang biasa disebut sebagai Jemaah Islamiyah. Ada juga dugaan bahwa Hambali mempunya hubungan dengan Al Qaeda.

Hambali didakwa melakukan pembunuhan dan percobaan pembunuhan yang melanggar hukum perang, dengan sengaja menyebabkan korban menderita luka serius, melakukan aksi-aksi terorisme, dan menyerang warga sipil.

Juni 23, 2017

Setelah sekian lama tidak terdengar kabarnya dan jarang terlihat di layar kaca, kabar terbaru dari Dai kondang Ustadz Haryono membuat masyarakat kaget.

Ustadz ini ditangkap oleh Polisi dari Satuan Reserse Kriminal Polresta Bandar Lampung. Penangkapan dilakukan di rumahnya, di Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis (22/06/2017.

Alasan penangkapan Ustadz Haryono adalah karena melakukan tindak kriminal penipuan dan penggelapan dengan modus memberangkatkan orang untuk pergi haji.

“Benar. Satuan Reserse menangkap seorang bernama Hariyono yang terkenal sebagai ustaz,” kata Kapolresta Bandar Lampung Komisaris Besar Murbani Budi Pitono, Kamis malam.

Penangkapan itu berawal dari laporan dua warga Sukarame, Bandar Lampung yang menjadi korban penipuan Ustadz Haryono.

Kasus ini berawal pada Juli 2016 silam. Saat itu korban ditawari untuk berangkat haji plus oleh ustadz Haryono. Adapun biaya unutk naik haji tersebut cukup murah, yaitu sebesar Rp 27 juta.

Namun, ada syarat yang harus dipenuhi korban agar bisa mendapatkan harga murah tersebut, yaitu harus mengajak empat orang lainnya untuk ikut dengan harga yang lebih mahal yaitu sebesar Rp 100 juta.

Setelah syarat tersebut dipenuhi oleh korban, ternyata mereka tidak jadi diberangkatkan oleh ustadz Haryono. Alasannya adalah karean visa mereka tidak dikeluarkan oleh pemerintah Arab Saudi.

Masih Terkait Kasus Ratu Atut

Sebelum kejadian penipuan dan penggelapan uang tersebut, ustadz Haryono pernah juga tersangkut kasus korupsi pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Rujukan Pemerintah di Provinsi Banten. Korupsi ini merugikan negara sebesar Rp 79,9 miliar.

Ratu Atut Choisyah, mantan Gubernur Banten adalah salah satu pelaku korupsi pengadaan alat kesehatan tersebut. Hariyono ikut tersangkut kasus tersebut karena mengaku sembilan kali memimpin istigasah untuk Atut sepanjang 2011-2013.

Pada 7 Juni 2012 itu istigasah dilakukan di Masjid Baitussolihin, Banten selanjutnya 10 Juni 2012 dilakukan di rumah Haryono di Bekasi.

Istigasah dilakukan sebanyak sembilan kali dan menghabiskan biaya sebesar Rp 495 juta. Sedangkan pengadaan alat kesehatan sudah dianggarkan melalui APBD dan APBD Perubahan 2012.

Menurut keterangan Haryono, biaya itu sesuai dengan keikhlasan pengundang yang meminta didoakan agar terpilih lagi sebagai gubernur.

Dikutip dari Antara, dalam rangka pelaksanaan istighatsah itu, Ratu Atut memerintahkan Sekretaris Daerah (Sekda) Banten Muhadi, Asisten Daerah II Muhamad Husni Hasan untuk memanggil beberapa kepala dinas secara terpisah.

Kepala dinas dipanggil, antara lain Kadis Kesehatan Banten Djadja Buddy Suhardja (dilantik Februari 2016), Hudaya Latuconsina selaku Kadis Perindustrian dan Perdagangan Banten (dilantik 2008) dan juga Kadis Pendidikan Banten (diangkat Januari 2012).

Juga Kadis Sumber Daya Air dan Pemukiman (SDAP) Banten Iing Suwargi (diangkat Januari 2011) dan Kadis Bina Marga dan Tata Ruang Banten Sutadi (diangkat Agustus 2008).

Mereka mendapat perintah agar memberikan dana sebesar Rp 500 juta untuk keperluan istighasah tersebut.

Intimidasi yang dilakukan oleh Ratu Atut tersebut membuat keempatnya memberikan uang RP 500 juta di rumah Atut. Rincian pemberian uang tersebut adalah Djaja sebesar Rp 100 juta, Hudaya sebesar Rp 150 juta, Iing sebesar Rp 125 juta dan Sutadi sebesar Rp 125 juta.

Pada 10 Oktober 2013, setelah uang terkumpul, Ratu Atut memerintahkan Riza Martina dan Rendi Allanikika Pratiaksa menyerahkan uang sebesar Rp 495 juta kepada ustadz Hariyono di rumahnya di Bekasi, selanjutnya Hariyono melakukan beberapa kali istigasah di Bekasi untuk Atut.

Juni 23, 2017
Orangtua harus Membiarkan Anak untuk Makan Sendiri
Fokus orang tua terhadap panganan anak sering kali hanya seputar status gizinya, padahal sebetulnya juga bisa pada membangun rasa percaya diri anak.

Metode untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya bisa di mulai dengan membiarkannya mandiri dan melakukan banyak hal sendiri. Contohnya ketika anak menginjak usia setahun ada yang sudah tidak mau lagi digendong atau mau mencoba makan sendiri.

Akan tetapi kebanyakan orang tua tidak sabar menunggu si kecil menghabiskan makanannya, belum lagi harus membersihkan semua makanan yang tercecer karena anak masih belum mahir memenggunakan sendok, sebab sudah terbiasa disuapi semenjak bayi. Anak usia 5-6 bulan sudah terbiasa memasukkan benda ke mulutnya sendiri, yang artinya saat mendapat makanan pendamping ASI sesungguhnya dia sudah bisa dilatih untuk makan sendiri.

dr. Tjhin Wiguna, Sp.KJ, mengatakan, memberikan makanan pada anak tak sekadar memberi saja, karena proses pemberian makanan itu juga berharga, dan bisa menumbuhkan rasa percaya diri anak.

makan sendiri dapat merangsang kemampuan jemari dan motorik halus anak
Hal tersebut bisa dimulai saat anak mengonsumsi camilan, yang merangsang kemampuan jemari dan motorik halusnya. Kemampuan motorik halus anak adalah bekal untuk nanti kemampuannya menulis dan melakukan pekerjaan rumit lainnya yang menggunakan jari tangan.

dr. Tjhin Wiguna, Sp.KJ, juga menambahkan, momen krusial untuk perkembangan motorik halus anak adalah saat anak berusia tujuh bulan hingga dua tahun. Saat tersebutlah perkembangan keterampilan fisiknya dalam menggunakan otot halus terlihat hingga anak dapat mengkoordinasikan antara mata dengan tangan.

Anak yang koordinasi antara mata dengan tangannya buruk atau belum berkembang, saat melihat barang ada di depan tangannya bisa bergerak kearah yang lain. Sedang anak dengan kemampuan motorik halus bagus tidak akan salah mengambil barang.

Juni 23, 2017
Meningkatnya Jumlah Perempuan yang tidak Peduli dengan Penampilan Ketiak
Tidak pernah ada peraturan dalam standar kecantikan yang menyatakan bahwa ketiak pada seorang perempuan harus dicukur bersih, meskipun sebenarnya memang akan terlihat lebih bersih dan terawat. Tapi dewasa ini semakin banyak perempuan yang mengaku tidak masalah kalau memiliki bulu ketiak panjang.

Tidak sedikit juga survei yang menunjukkan peningkatan jumlah perempuan yang menolak untuk mencukur bulu ketiak, dan ingin membiarkan tumbuhnya bulu-bulu di sekujur tubuhnya, terutama di bagian ketiak.

Salah satunya survei tersebut dilakukan oleh perusahaan riset Mintel di Inggris, yang iikuti oleh 2000 orang pengguna internet berusia diatas 16 tahun, yang mengungkapkan di tahun 2016, ada 77 persen perempuan usia 16-24 tahun rutin membersikan bulu pada ketiaknya. Meski prosentase ini turun tidak terlalu signifikan dari 84 persen di tahun 2014, tapi ini berarti sekitar satu dari empat wanita tersebut memandang bahwa memang tidak lah perlu mencukur bulu di ketiak secara rutin.

Data tersebut juga menunjukkan kalau 83 persen wanita yang termasuk dalam generasi milenial, menganggap seolah ada banyak tekananan yang ditujukan kepada perempuan untuk menghilangkan bulu-bulu di tubuhnya.


Meskipun survei tersebut tidak dapat mencerminkan populasi umum, tapi tidak di pungkiri bahwa semakin banyak perempuan yang tidak lagi mau peduli pada mulusnya ketiaknya.

Misalnya Paris Jackson dan Bella Thorne yang dengan bangga menunjukkan ketiaknya yang ditumbuhi rambut. Media sosial seperti Instagram atau Twitter pun melahirkan sebuah tren baru dimana wanita tidak lagi harus malu bahkan percaya diri dalam memamerkan bulu ketiaknya.

Dan ada juga wanita yang mengatakan bahwa memanjangkan bulu ketiak adalah simbol perlawanan terhadap konsep kecantikan yang dibentuk oleh media selama ini.

Berita Lainnya

[randompost][fbig2 animated]

Berita Nasional

[Berita Nasional][fbig2 animated]

Global News

[Global News][fbig2 animated]
Diberdayakan oleh Blogger.